10 Tahun Bali Pulau Taman
Mencari Keunikan Lokal, Jabarkan Konsep ''Astha
Negari''
Sumbangan keunggulan taman-taman di Bali, khususnya
yang ada di Kabupaten Badung, dari taman rumah tinggal sampai
taman hotel, telah menjadikan Propinsi Bali berturut-turut selama
3 periode meraih juara Lomba Taman Tingkat Nasional (LTTN).
Serangkaian LTTN itulah kemudian, sejak 1995 dicanangkan program
Bali Pulau Taman. Lantas, bagaimana setelah 10 tahun kini?
-----------------
DALAM
rangka memperingatI 10 tahun pencanangan Bali Pulau Taman, Pemda
Bali melalui Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda),
bekerja sama dengan Perkumpulan Pencinta Tanaman (PPT) dan Ikatan
Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) Cabang Bali, mengadakan lomba
taman. Lomba ini selain bertujuan meningkatkan fungsi ekologi
tanaman, pembudidayaan tanaman langka dan keindahan Pulau Bali,
juga bertujuan mengangkat kekhasan lokal suatu kabupaten
(indigenous), melalui penjabaran konsep kepemimpinan pemerintahan
astha negari.
Lomba taman ini dapat dikatakan sebagai upaya
pengembangan keunggulan lokal di bidang pertamanan, sehingga Bali
sebagai Pulau Taman betul-betul memiliki taman yang bervariasi,
kaya materi dan memiliki berbagai fungsi. Pengembangan keunggulan
lokal di bidang pertamanan ini dilakukan melalui proses pendekatan
kultural lokal (sesuai dengan kabupaten), tradisi dan indigenous.
Berbagai sumber keunggulan lokal, berasal dari tradisi maupun
sumber-sumber indigenous yang bisa diangkat, adalah menyangkut
filsafat lokal, pengetahuan lokal, teknologi lokal, keterampilan
lokal, material lokal, estetika dan idiom lokal.
Karena itu, dalam pengembangan budaya lokal untuk
menghasilkan keunggulan lokal di bidang pertamanan, diperlukan
reinterpretasi guna memperoleh makna baru tanpa merusak
nilai-nilai esensialnya. Tak tertutup kemungkinan adanya konsep "pelintasan
estetik" untuk memperkaya budaya lokal dan desain taman dengan
mempertemukan dua budaya. Melalui proses pertemuan antarbudaya
yang selektif dan tidak mengorbankan nilai serta identitas budaya
lokal, maka akan bisa diperoleh suatu desain yang baru dan khas.
Melalui keterbukaan kritis, sikap menerima budaya luar yang
positif dan menyaring yang negatif, budaya lokal tidak akan rusak.
Keunggulan lokal di bidang pertamanan, juga bisa
dilakukan dengan upaya menggali (meneliti) sumber-sumber
pengetahuan lokal untuk menghasilkan berbagai konsep taman yang
unik dan orisinal. Perubahan gaya hidup juga akan berpengaruh pada
rancangan taman, terkait dengan aktivitas dan fasilitas. Agar
rancangan taman bisa diterima oleh pemilik atau masyarakat pemakai,
diperlukan pengembangan pemaknaan terhadap rancangan taman
tersebut.
Jadi pada prinsipnya, penciptaan keunggulan lokal
(local genius) di bidang pertamanan adalah upaya-upaya untuk
mengembangkan pengetahuan, konsep atau produk (desain taman)
berdasarkan sumber-sumber indigenous.
Interpretasi ''Astha Negari''
Lomba taman yang digelar Pemda Bali terkait Hari
Habitat, 20 Oktober 2005 mendatang, ini telah menilai taman-taman
Kantor Bupati/ Kota Madya dan rumah tinggal -- pada 22 Agustus s.d.
8 September 2005. Khusus terkait taman kantor pemerintahan
kabupaten, Pemda Bali berkeinginan memperoleh berbagai desain
taman dengan konsep astha negari. Konsep ini merupakan konsep
taman dari konsep kepemimpinan astha brata yang bersumber dari
teks Ramayana yang ditulis Rsi Walmiki (India) dan digubah dalam
bentuk kekawin berbahasa Jawa Kuno oleh Mpu Yogiswara pada 925
Masehi.
Konsep kepemimpinan astha brata ini disampaikan Sri
Rama kepada Wibisana untuk memimpin Kerajaan Alengka, setelah
Rahwana dapat dikalahkan. Sri Rama juga memberikan petuah kepada
adiknya, Bharata, tentang cara memimpin negara, ketika dia
meninggalkan Kerajaan Ayodya untuk mengembara di hutan bersama
Laksamana dan Dewi Sita.
Contoh taman dengan konsep astha brata ini
sebenarnya telah diwujudkan di depan Kantor Gubernur Bali, di
kompleks perkantoran Niti Mandala. Selanjutnya, konsep ini harus
direinterpretasi lagi oleh pemerintahan tingkat Kabupaten/ Kota,
sehingga Bali memiliki variasi yang kaya berkaitan dengan taman
kantor pemerintahan. Selain itu, diharapkan pula setiap pemimpin
pemerintahan di Bali memiliki visi dan misi bagaimana sebaiknya
menjadi seorang pemimpin rakyat, agar kehidupan rakyat tentram dan
sejahtera.
Konsep kepemimpinan astha brata pada hakikatnya
menekankan delapan tugas yang seharusnya dihayati seorang pemimpin
seperti layaknya Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera dan
Agni. Dalam ajaran ini, pemimpin diharuskan bisa memberikan
kesejahteraan pada rakyatnya, bagaikan Dewa Indra yang
menganugerahkan hujan pada semua mahluk -- konsep ini disebut "Indra
Brata". Di bidang hukum, pemimpin harus melaksanakan "Yama Brata",
menegakkan hukum tanpa pandang bulu seperti layaknya tugas Dewa
Yama.
Pemimpin juga harus bisa memberikan penerangan
kepada seluruh rakyat dan menghimpun potensi kekuatan-kekuatan
rakyat yang bisa dimanfaatkan di semua sektor kehidupan, seperti
tugas Dewa Surya ("Surya Brata"). Pemimpin juga hendaknya bersikap
seperti layaknya Dewi Bulan ("Candra Brata"), bisa membuat hati
seluruh rakyat merasa berbahagia dengan tindakan lemah-lembut dan
kasih sayang. Jika pemimpin ingin mengawasi seluruh aparatnya,
hendaknya bisa mengawasi dengan sopan seperti sikap Dewa Bayu saat
menghembuskan angin ("Bayu Brata").
Pemimpin harus menunjukkan sikap bahwa segala hasil
kerjanya diperoleh secara halal dan tidak untuk berfoya-foya,
seperti sikap Dewa Kuwera ("Kuwera Brata"). Dalam menghadapi
tindak kriminal, pemimpin harus mencontoh sikap Dewa Baruna ("Baruna
Brata") yang memiliki senjata Nagapasa -- senjata yang dapat
mengikat tanpa memberi ruang gerak kepada semua penjahat di
negerinya. Terakhir, pemimpin harus memiliki kemampuan seperti
Dewa Api ("Agni Brata"), tangguh dan berani menghadapi segala
musuh.
Untuk mereinterpretasi konsep kepemimpinan astha
brata ini di taman-taman Kantor Bupati/Kota di seluruh Bali, telah
dilakukan pembinaan sebelum dilakukan penilaian. Visualisasi
konsep kepemimpinan ini memang telah diwujudkan secara beragam
oleh berbagai kabupaten dan pemerintahan kota.
Tetap
Relevan
Dalam konteks masa kini, konsep kepemimpinan astha
Brata ini tetap relevan untuk dilaksanakan, karena memiliki makna
dan nilai-nilai universal. Dia tetap kontekstual sepanjang zaman.
Terlebih dalam kondisi bangsa dan negara Indonesia yang mengalami
krisis multidimensi seperti sekarang, pelaksanaan ajaran ini
memang sangat relevan, meskipun sangat berat bagi seorang pemimpin.
Lantas, penjabaran konsep taman astha negari yang
menjadi tema lomba taman Kantor Pemerintahan Kabupaten/Kota di
Bali kali ini harus didukung keindahan tata ruang (pola, sirkulasi,
kesatuan, karakter, warna, kejelasan tapak, pemanfaatan potensi
tapak, pencahayaan dan kesesuaian terbuka-tertutup), fungsi
ekologis dan budidaya (resapan air, prosentase perkerasan, tanaman
langka, tanaman lokal keanekaragaman hayati, fungsi penyangga),
kepeloporan di bidang tanaman (langka, khas daerah dan
diversifikasi jenis), serta kesehatan dan kebersihan (pembuatan
limbah, sirkulasi udara, persediaan air, sanitasi dan kebersihan).
Pada hakikatnya, melalui lomba ini diharapkan
diperoleh hasil taman kantor pemerintahan daerah yang desainnya
merupakan pengembangan keunggulan dan kesehatan lokal, sehingga
Bali sebagai Pulau Taman betul-betul dapat memiliki desain taman
yang bervariasi, kaya materi dan memiliki berbagai fungsi, yang
dijiwai konsep kepemimpinan astha brata.
* gede mugi
raharja