kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 25 September 2005 tarukan valas
 

DESAIN dan ARSITEKTUR


10 Tahun Bali Pulau Taman

Mencari Keunikan Lokal, Jabarkan Konsep ''Astha Negari''

Sumbangan keunggulan taman-taman di Bali, khususnya yang ada di Kabupaten Badung, dari taman rumah tinggal sampai taman hotel, telah menjadikan Propinsi Bali berturut-turut selama 3 periode meraih juara Lomba Taman Tingkat Nasional (LTTN). Serangkaian LTTN itulah kemudian, sejak 1995 dicanangkan program Bali Pulau Taman. Lantas, bagaimana setelah 10 tahun kini?

-----------------

 

DALAM rangka memperingatI 10 tahun pencanangan Bali Pulau Taman, Pemda Bali melalui Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda), bekerja sama dengan Perkumpulan Pencinta Tanaman (PPT) dan Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) Cabang Bali, mengadakan lomba taman. Lomba ini selain bertujuan meningkatkan fungsi ekologi tanaman, pembudidayaan tanaman langka dan keindahan Pulau Bali, juga bertujuan mengangkat kekhasan lokal suatu kabupaten (indigenous), melalui penjabaran konsep kepemimpinan pemerintahan astha negari.

Lomba taman ini dapat dikatakan sebagai upaya pengembangan keunggulan lokal di bidang pertamanan, sehingga Bali sebagai Pulau Taman betul-betul memiliki taman yang bervariasi, kaya materi dan memiliki berbagai fungsi. Pengembangan keunggulan lokal di bidang pertamanan ini dilakukan melalui proses pendekatan kultural lokal (sesuai dengan kabupaten), tradisi dan indigenous. Berbagai sumber keunggulan lokal, berasal dari tradisi maupun sumber-sumber indigenous yang bisa diangkat, adalah menyangkut filsafat lokal, pengetahuan lokal, teknologi lokal, keterampilan lokal, material lokal, estetika dan idiom lokal.

Karena itu, dalam pengembangan budaya lokal untuk menghasilkan keunggulan lokal di bidang pertamanan, diperlukan reinterpretasi guna memperoleh makna baru tanpa merusak nilai-nilai esensialnya. Tak tertutup kemungkinan adanya konsep "pelintasan estetik" untuk memperkaya budaya lokal dan desain taman dengan mempertemukan dua budaya. Melalui proses pertemuan antarbudaya yang selektif dan tidak mengorbankan nilai serta identitas budaya lokal, maka akan bisa diperoleh suatu desain yang baru dan khas. Melalui keterbukaan kritis, sikap menerima budaya luar yang positif dan menyaring yang negatif, budaya lokal tidak akan rusak.

Keunggulan lokal di bidang pertamanan, juga bisa dilakukan dengan upaya menggali (meneliti) sumber-sumber pengetahuan lokal untuk menghasilkan berbagai konsep taman yang unik dan orisinal. Perubahan gaya hidup juga akan berpengaruh pada rancangan taman, terkait dengan aktivitas dan fasilitas. Agar rancangan taman bisa diterima oleh pemilik atau masyarakat pemakai, diperlukan pengembangan pemaknaan terhadap rancangan taman tersebut.

Jadi pada prinsipnya, penciptaan keunggulan lokal (local genius) di bidang pertamanan adalah upaya-upaya untuk mengembangkan pengetahuan, konsep atau produk (desain taman) berdasarkan sumber-sumber indigenous.

 

Interpretasi ''Astha Negari''

Lomba taman yang digelar Pemda Bali terkait Hari Habitat, 20 Oktober 2005 mendatang, ini telah menilai taman-taman Kantor Bupati/ Kota Madya dan rumah tinggal -- pada 22 Agustus s.d. 8 September 2005. Khusus terkait taman kantor pemerintahan kabupaten, Pemda Bali berkeinginan memperoleh berbagai desain taman dengan konsep astha negari. Konsep ini merupakan konsep taman dari konsep kepemimpinan astha brata yang bersumber dari teks Ramayana yang ditulis Rsi Walmiki (India) dan digubah dalam bentuk kekawin berbahasa Jawa Kuno oleh Mpu Yogiswara pada 925 Masehi.

Konsep kepemimpinan astha brata ini disampaikan Sri Rama kepada Wibisana untuk memimpin Kerajaan Alengka, setelah Rahwana dapat dikalahkan. Sri Rama juga memberikan petuah kepada adiknya, Bharata, tentang cara memimpin negara, ketika dia meninggalkan Kerajaan Ayodya untuk mengembara di hutan bersama Laksamana dan Dewi Sita.

Contoh taman dengan konsep astha brata ini sebenarnya telah diwujudkan di depan Kantor Gubernur Bali, di kompleks perkantoran Niti Mandala. Selanjutnya, konsep ini harus direinterpretasi lagi oleh pemerintahan tingkat Kabupaten/ Kota, sehingga Bali memiliki variasi yang kaya berkaitan dengan taman kantor pemerintahan. Selain itu, diharapkan pula setiap pemimpin pemerintahan di Bali memiliki visi dan misi bagaimana sebaiknya menjadi seorang pemimpin rakyat, agar kehidupan rakyat tentram dan sejahtera.

Konsep kepemimpinan astha brata pada hakikatnya menekankan delapan tugas yang seharusnya dihayati seorang pemimpin seperti layaknya Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera dan Agni. Dalam ajaran ini, pemimpin diharuskan bisa memberikan kesejahteraan pada rakyatnya, bagaikan Dewa Indra yang menganugerahkan hujan pada semua mahluk -- konsep ini disebut "Indra Brata". Di bidang hukum, pemimpin harus melaksanakan "Yama Brata", menegakkan hukum tanpa pandang bulu seperti layaknya tugas Dewa Yama.

Pemimpin juga harus bisa memberikan penerangan kepada seluruh rakyat dan menghimpun potensi kekuatan-kekuatan rakyat yang bisa dimanfaatkan di semua sektor kehidupan, seperti tugas Dewa Surya ("Surya Brata"). Pemimpin juga hendaknya bersikap seperti layaknya Dewi Bulan ("Candra Brata"), bisa membuat hati seluruh rakyat merasa berbahagia dengan tindakan lemah-lembut dan kasih sayang. Jika pemimpin ingin mengawasi seluruh aparatnya, hendaknya bisa mengawasi dengan sopan seperti sikap Dewa Bayu saat menghembuskan angin ("Bayu Brata").

Pemimpin harus menunjukkan sikap bahwa segala hasil kerjanya diperoleh secara halal dan tidak untuk berfoya-foya, seperti sikap Dewa Kuwera ("Kuwera Brata"). Dalam menghadapi tindak kriminal, pemimpin harus mencontoh sikap Dewa Baruna ("Baruna Brata") yang memiliki senjata Nagapasa -- senjata yang dapat mengikat tanpa memberi ruang gerak kepada semua penjahat di negerinya. Terakhir, pemimpin harus memiliki kemampuan seperti Dewa Api ("Agni Brata"), tangguh dan berani menghadapi segala musuh.

Untuk mereinterpretasi konsep kepemimpinan astha brata ini di taman-taman Kantor Bupati/Kota di seluruh Bali, telah dilakukan pembinaan sebelum dilakukan penilaian. Visualisasi konsep kepemimpinan ini memang telah diwujudkan secara beragam oleh berbagai kabupaten dan pemerintahan kota.

 

Tetap Relevan

Dalam konteks masa kini, konsep kepemimpinan astha Brata ini tetap relevan untuk dilaksanakan, karena memiliki makna dan nilai-nilai universal. Dia tetap kontekstual sepanjang zaman. Terlebih dalam kondisi bangsa dan negara Indonesia yang mengalami krisis multidimensi seperti sekarang, pelaksanaan ajaran ini memang sangat relevan, meskipun sangat berat bagi seorang pemimpin.

Lantas, penjabaran konsep taman astha negari yang menjadi tema lomba taman Kantor Pemerintahan Kabupaten/Kota di Bali kali ini harus didukung keindahan tata ruang (pola, sirkulasi, kesatuan, karakter, warna, kejelasan tapak, pemanfaatan potensi tapak, pencahayaan dan kesesuaian terbuka-tertutup), fungsi ekologis dan budidaya (resapan air, prosentase perkerasan, tanaman langka, tanaman lokal keanekaragaman hayati, fungsi penyangga), kepeloporan di bidang tanaman (langka, khas daerah dan diversifikasi jenis), serta kesehatan dan kebersihan (pembuatan limbah, sirkulasi udara, persediaan air, sanitasi dan kebersihan).

Pada hakikatnya, melalui lomba ini diharapkan diperoleh hasil taman kantor pemerintahan daerah yang desainnya merupakan pengembangan keunggulan dan kesehatan lokal, sehingga Bali sebagai Pulau Taman betul-betul dapat memiliki desain taman yang bervariasi, kaya materi dan memiliki berbagai fungsi, yang dijiwai konsep kepemimpinan astha brata.

 

* gede mugi raharja

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com