kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 17 Desember 2005

 Pariwisata


Catatan
Pariwisata Sepekan............
Sangat
Penting, Riset Segmen Pasar

DALAM suatu percakapan dengan seorang praktisi pariwisata senior belum lama ini, terbersit gagasan agar pemulihan pariwisata Bali pascabom Jimbaran-Kuta jangan lagi mengandalkan cara konvensional seperti yang diperlihatkan selama ini. Kalau cara konvensional dipaksakan, dikhawatir malah menimbulkan frustrasi. Selain menghambur-hamburkan dana, juga membuat Bali makin kehilangan kepercayaan diri karena hasilnya nihil.

Pernyataan ini disampaikan sang praktisi dalam konteks  upaya pemulihan pariwisata Bali yang dilakukan sejumlah pihak belakangan ini, yang polanya dinilai tidak berbeda dengan pascabom Legian. Selain kesannya diam-diam, juga tak jelas hasilnya. Para pelaku promosi baik pemerintah maupun kalangan industri yang diajak mungkin merasa, dengan ke luar negeri sudah cukup. Bagaimana hasilnya, tak peduli. Masuk di akal kalau pola yang sama akan terus dilakukan.

Lebih jauh dia menganjurkan, saat ini sebaiknya ada kajian yang menyeluruh tentang pasar pariwisata Bali. Bukan hanya dalam konteks penyumbang terbanyak, juga per segmen. Dari sana diketahui trend wisatawan dunia. Buktinya, kendati negaranya memberlakukan travel warning, masih ada wisatawan yang mau datang ke Bali. Jadi seharusnya dilakukan semacam marketing study. Setelah semuanya beres baru kita promosi ke luar negeri, khususnya ke sejumlah negara pasar utama, seperti Jepang, Australia, Taiwan, Korea Selatan dan Jerman.

Pasar pariwisata Bali memang sangat tersegmentasi ke dalam kelompok negara, yakni kelompok segmen pasar utama, pasar pelengkap dan pasar potensial. Hasil telaah menyebutkan, penyumbang wisatawan terbesar ke Bali seperti dipaparkan di atas yakni Jepang, Australia, Taiwan, Korea Selatan dan Jerman. Sedangkan pasar pelengkap meliputi negara ASEAN plus negara di Eropa seperti Inggris, Amerika Serikat, Prancis dan Belanda plus beberapa negara di benua Amerika dan Afrika. Cina, India dan sejumlah negara di kawasan Teluk masih termasuk pasar potensial.

Jadi, dari segi segmentasi per negara, terlihat agak sederhana. Padahal, di masing-masing negarapun jenis wisatawannya berbeda-beda. Ada yang suka tantangan (adventure), ada yang gandrung belanja, ada yang sangat menikmati keindahan alam, ada yang senang berjemur di pantai. Tak sedikit yang ingin menikmati suasana sepi untuk meditasi dan masih banyak kesukaan lain yang dilakukan wisatawan untuk menghamburkan duitnya. Termasuk yang menyukai hampir semua yang dipaparkan di atas.

Kesukaan umumnya ditentukan oleh berbagai hal, misalnya latar belakang sosial ekonomi, hobi dan usia. Kita tidak mempunyai data yang pasti apa yang dominan menjadi kesukaan mayoritas turis yang datang ke Bali dan berapa jumlah mereka dari cerukan pasar (market share) yang ada. Memang ada penelitian yang secara kualifikasi menyimpulkan, sebagian besar wisman datang ke Bali karena budaya? Namun seberapa jauh validitas penelitian tersebut dikaitkan dengan kondisi real saat ini. Penelitian seperti ini tampaknya sangat perlu sebagai referensi ke depan.

Secara konsepsional memang kita mengenal trilogi penciptaan pasar (tourism trilogy) yang mencakup produk, pemasaran dan kelembagaan. Produk menyangkut kualitas objek dan atraksi wisata yang dikemas dengan baik. Pemasaran menyangkut promosi ke luar negeri yang efektif di mana ada sinergi antara pemerintah dan industri pariwisata. Menyangkut kelembagaan, dititikberatkan pada penciptaan efisiensi paket wisata pada batas harga, pelayanan dan kenyamanan yang kompetitif setidaknya dengan destinasi terdekat di ASEAN.

Pada konteks ini, persoalan promosi tak sesederhana yang dibayangkan. Dengan demikian, cara-cara konvensional yang meneropong pasar wisatawan hanya terfokus pada asal negara tak cukup relevan lagi. Harus ada pendekatan melalui segmen lain. Untuk mengetahuinya tak bisa hanya dengan asumsi, melainkan riset. Di sinilah peran akademisi sangat diharapkan. Sayangnya, para pebisnis pariwisata tak pernah menyadari pentingnya riset. Buktinya, dalam komponen cost biaya, riset tak pernah dicantumkan. Hal ini menjadi pertimbangan di masa depan, sebagaimana kini industri pariwisata menyisihkan dana untuk keamanan.

* gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)