Catatan
Pariwisata
Sepekan............
Sangat
Penting,
Riset
Segmen Pasar
DALAM suatu
percakapan
dengan
seorang praktisi
pariwisata senior
belum lama
ini,
terbersit gagasan
agar pemulihan
pariwisata
Bali pascabom
Jimbaran-Kuta
jangan
lagi mengandalkan
cara
konvensional
seperti yang
diperlihatkan
selama
ini. Kalau
cara
konvensional
dipaksakan,
dikhawatir
malah
menimbulkan frustrasi.
Selain
menghambur-hamburkan
dana,
juga
membuat Bali makin
kehilangan
kepercayaan
diri
karena hasilnya
nihil.
Pernyataan
ini
disampaikan sang praktisi
dalam
konteks
upaya
pemulihan
pariwisata Bali yang
dilakukan
sejumlah
pihak
belakangan ini, yang
polanya
dinilai tidak
berbeda
dengan pascabom
Legian.
Selain
kesannya
diam-diam,
juga
tak jelas
hasilnya.
Para
pelaku
promosi baik
pemerintah
maupun
kalangan industri
yang diajak
mungkin
merasa, dengan
ke luar
negeri
sudah cukup.
Bagaimana
hasilnya,
tak
peduli. Masuk
di akal
kalau
pola yang
sama
akan
terus dilakukan.
Lebih
jauh
dia menganjurkan,
saat
ini sebaiknya
ada
kajian yang menyeluruh
tentang
pasar pariwisata
Bali.
Bukan
hanya
dalam konteks
penyumbang
terbanyak,
juga per
segmen. Dari
sana
diketahui trend
wisatawan
dunia.
Buktinya, kendati
negaranya
memberlakukan travel
warning, masih
ada
wisatawan yang mau
datang
ke Bali.
Jadi
seharusnya
dilakukan
semacam marketing study.
Setelah
semuanya
beres
baru kita
promosi
ke luar
negeri,
khususnya ke
sejumlah
negara
pasar utama,
seperti
Jepang,
Australia, Taiwan, Korea Selatan
dan
Jerman.
Pasar
pariwisata Bali
memang
sangat tersegmentasi
ke
dalam kelompok
negara,
yakni kelompok
segmen
pasar utama,
pasar
pelengkap dan
pasar
potensial.
Hasil
telaah
menyebutkan, penyumbang
wisatawan
terbesar
ke
Bali
seperti
dipaparkan di
atas
yakni
Jepang,
Australia, Taiwan, Korea Selatan
dan
Jerman.
Sedangkan
pasar
pelengkap meliputi
negara ASEAN plus
negara
di Eropa
seperti
Inggris, Amerika
Serikat,
Prancis
dan Belanda plus
beberapa
negara
di benua
Amerika
dan Afrika.
Cina,
India dan
sejumlah
negara
di kawasan
Teluk
masih termasuk
pasar
potensial.
Jadi,
dari
segi segmentasi per
negara,
terlihat agak
sederhana.
Padahal,
di
masing-masing negarapun
jenis
wisatawannya berbeda-beda.
Ada
yang suka
tantangan (adventure),
ada yang
gandrung
belanja,
ada yang
sangat
menikmati keindahan
alam,
ada yang senang
berjemur
di
pantai.
Tak
sedikit yang ingin
menikmati
suasana
sepi untuk
meditasi
dan
masih banyak
kesukaan
lain yang dilakukan
wisatawan
untuk
menghamburkan duitnya.
Termasuk
yang menyukai
hampir
semua yang dipaparkan
di atas.
Kesukaan
umumnya
ditentukan oleh
berbagai
hal,
misalnya latar
belakang
sosial
ekonomi, hobi
dan
usia. Kita
tidak
mempunyai data yang pasti
apa
yang dominan
menjadi
kesukaan mayoritas
turis yang
datang
ke Bali dan
berapa
jumlah mereka
dari
cerukan pasar (market
share) yang ada.
Memang
ada
penelitian yang secara
kualifikasi
menyimpulkan,
sebagian
besar
wisman datang
ke
Bali
karena
budaya?
Namun
seberapa
jauh
validitas penelitian
tersebut
dikaitkan
dengan
kondisi real saat
ini.
Penelitian
seperti
ini tampaknya
sangat
perlu sebagai
referensi
ke
depan.
Secara
konsepsional
memang
kita mengenal
trilogi
penciptaan pasar
(tourism trilogy) yang mencakup
produk,
pemasaran dan
kelembagaan.
Produk
menyangkut
kualitas
objek
dan atraksi
wisata yang
dikemas
dengan baik.
Pemasaran
menyangkut
promosi
ke luar
negeri yang
efektif
di mana
ada
sinergi antara
pemerintah
dan
industri pariwisata.
Menyangkut
kelembagaan,
dititikberatkan
pada
penciptaan efisiensi
paket
wisata pada
batas
harga, pelayanan
dan
kenyamanan yang kompetitif
setidaknya
dengan
destinasi terdekat
di ASEAN.
Pada
konteks
ini, persoalan
promosi
tak sesederhana yang
dibayangkan.
Dengan
demikian,
cara-cara
konvensional yang
meneropong
pasar
wisatawan hanya
terfokus
pada
asal negara
tak
cukup relevan
lagi.
Harus
ada pendekatan
melalui
segmen lain.
Untuk
mengetahuinya
tak
bisa hanya
dengan
asumsi, melainkan
riset.
Di
sinilah
peran akademisi
sangat
diharapkan.
Sayangnya,
para
pebisnis pariwisata
tak
pernah menyadari
pentingnya
riset.
Buktinya,
dalam
komponen cost biaya,
riset
tak pernah
dicantumkan. Hal
ini
menjadi pertimbangan
di masa
depan,
sebagaimana kini
industri
pariwisata
menyisihkan
dana
untuk
keamanan.
*
gregorius