kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 17 Desember 2005

 Fenomena


Seniman Vs Lembaga Berbasis Agama

Oleh IBM Dharma Palguna

DALAM tradisi religius Hindu selalu ada kelompok yang punya semangat mengalirkan sehingga Hindu terus ada (sanatana). Tetapi, kelompok mengalirkan itu tidak bekerja sendirian. Mereka dibantu oleh pihak yang justru menentangnya, yaitu kelompok yang selalu ingin membendung, alias menstandarkan nilai-nilai. Yang punya semangat mengalirkan umumnya mereka yang melakoni Hindu sebagai religiusitas universal, seperti Saraswati yang selain nama sebuah sungai juga berarti mengalir. Sedangkan yang punya semangat membendung umumnya mereka yang berpikir bahwa Hindu adalah institusi yang standar, yang di dalamnya hanya ada ''benar vs tidak benar'' dan ''boleh vs tidak boleh''.

Kedua pihak itu saling mengesahkan keberadaan masing-masing. Yang mengalirkan mengesahkan yang membendung, demikian pula sebaliknya, lewat konflik-konflik yang mereka bangun. Konflik itu terbangun karena tidak mudah mengalirkan nilai-nilai yang bila telah dianut akan cenderung melembaga. Konflik itu juga terbangun karena tidak gampang membendung nilai-nilai yang secara alamiah cenderung mengalir menjelajahi ruang dan waktu.

Sejarah religiusitas Hindu mencatat dalam setiap tahapan waktu selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Tetapi, dalam periode yang panjang sejarah itu juga memberi tahu kita bahwa usaha membendung semangat religiusitas yang mengalir akhirnya gagal. Misalnya, Weda mengalir menjadi Upanishad, terus mengalir menjadi Purana (Ramayana dan Mahabharata), kemudian menjadi Manawa Dharma Sastra, terus Darshan (dua di antaranya adalah Samkhya dan Yoga), dan seterusnya dan seterusnya. Di Nusantara dan Bali aliran itu juga deras dan bercabang, beranting.

Walaupun kemenangan ada pada pihak yang mengalirkan, sesungguhnya mereka berutang budi pada yang membendung karena telah ikut membangun konflik. Jadi, yang mengalirkan dan yang membendung ada dalam satu lingkungan yang sama, orang menyebutnya tradisi. Keduanya terus membuat nilai-nilai itu ada dengan cara yang bertolak-belakang. Khazanah sastra Hindu kaya karena hasil kolaborasi dua pihak bertentangan itu.

Jadi, konflik antara sutradara GN dan WHYO dapat dipahami sebagai sepasang agen tradisi yang sedang bekerja dengan cara tarik-menarik dan tolak-menolak, sehingga kembali mengadakan teks pada memori audiensnya, dalam hal ini adalah teks Ramayana yang nyaris beku dalam cengkraman tradisi yang baku. Sutradara GN dan WHYO adalah dua orang pekerja yang barangkali tidak sadar bahwa mereka punya satu atasan yang sama, bernama tradisi. Keduanya sedang menjalankan peran masing-masing. Sang sutradara berusaha mengalirkan Ramayana karena ia adalah murid tradisi yang kritis, yang di kepalanya ada kata kreatif, berkembang, bertanggung jawab. WHYO ingin membendung karena ia adalah murid tradisi yang baik, yang di kepalanya ada kata reaktif, ajeg, bertanggung jawab.

Bagaimana keduanya menyikapi konflik, itulah masalahnya. Jika sutradara GN berhenti bekerja karena merasa tidak enak-hati, terancam dan alasan lainnya, berarti ia bukanlah sejatinya si Jiwa Mengalir. Sedangkan jika WHYO berubah dari peran pengkritik menjadi eksekutor, berarti tidak lagi ada dalam satu lingkaran yang sama. Bukan saja ia berarti ke luar dari lingkaran konflik penciptaan, juga ke luar dari basis pijakan.

Eksekusi imajinasi bukanlah sejatinya semangat Hindu, tetapi adalah kekerasan (himsa) pada level pikiran. Kekerasan pikiran itulah sesungguhnya yang harus dilawan oleh seorang penganut Hindu atau institusi berbasis kehinduan.

 

Originalitas Vs Hibrid

Studi filosogi di Indonesia dimulai oleh para filolog Belanda, pada zaman Hindu-Belanda. Mereka bekerja dengan berbagai metode untuk mendapatkan ''teks'' yang asli. Belakangan pendekatan mereka mendapatkan banyak kritik dari para scholars. Karena dengan mencari yang asli, mereka mengingkari sebuah teks itu hybrid, juga menganggap pengembangan teks lewat penyalinan adalah kesalahan.

Pandangan filolog Hindu-Belanda itu mendapatkan banyak pengikut di Indonesia. Pada gilirannya ''murid-murid'' itu dengan caranya masing-masing memasyarakatkan konsep originalitas. Keaslian, yang sesungguhnya sudah tidak ada, menjadi seperti harga mati.

Mereka beranggapan teks yang ada di depan mereka adalah ciptaan satu orang pengarang, individu. Mereka lupa bahwa teks itu adalah ciptaan tradisi, lewat penyalinan berkali-kali, oleh banyak orang, dengan berbagai konteks berbeda, dengan berbagai penambahan dan pengurangan, melewati waktu berabad-abad.

Epos Ramayana yang paling dikenal di dunia dihubungkan dengan nama pengarang Walmiki. Tetapi Ramayana-Walmiki bukanlah satu-satunya sumber teks kisah Rama dan Sita yang berkembang di dunia ini. Kakawin Ramayana, berbahasa Jawa Kuno, menggunakan sumber Uttarakanda. Di Bali ada banyak geguritan, berbahasa Bali yang ber-babon-kan fragmen Kakawin Ramayana.

Masyarakat Bali dan Jawa kebanyakan mengenal cerita Ramayana dari pementasan wayang, sendratari, dan lukisan. Sastra Indonesia juga memiliki karya yang mengisahkan fragmen dari epos besar itu. Misalnya, ada cerpen berjudul ''Wawancara dengan Rahwana'', ada novel ''Anak Bajang Menggiring Angin''. Komik tentang kisah Ramayana juga tak terbilang banyaknya. Hikayat dalam sastra Melayu pun ada yang berkisah tentang Rama cs.

Semua karya di atas adalah ''saksi'' bahwa epos Ramayana adalah dikembangkan dengan semangat kreatif yang luar biasa, di Melayu, Jawa, Bali, dan tentu saja di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagainya. Pikiran tentang originalitas, keaslian, nyata-nyata tidak menjadi kriteria baik oleh pengarang maupun oleh audiensnya.

Seniman Bali bahkan sangat terkenal kreatif dalam melakukan modifikasi. Dalam Sendratari Mahabharata, misalnya, publik Bali pernah disuguhi karakter Sakuni yang sangat vulgar, konyol, lucu, porno, bodoh, dan objek olok-olok. Vulgarisasi-Sakuni itu ternyata diterima dengan senang hati oleh penonton dan masyarakat Bali pada umumnya. Tidak ada pribadi atau lembaga yang marah. Karena khalayak Bali tahu itu boleh dan sah-sah saja.

Contoh kasus seperti vulgarisasi-Sakuni sangat banyak justru di Bali. Tidak ada orang atau institusi yang memprotes karakter Sakuni dalam sendratari yang ''menyimpang'' dari karakter Sakuni dalam parwa-parwa dan dalam sejumlah kakawin. Karena di dalam tradisi Bali sesungguhnya ada semangat berkembang, mengalir, dan menghargai perbedaan. Perkembangan sejarah politik dan pendidikan menyebabkan tumbuhnya sikap antiperbedaan, sikap ingin menstandarkan, dan sikap bertahan berlebihan.

Kisah cinta segi tiga Rama-Sita-Rahwana sudah mendunia. Sudah menjadi milik dunia. Sehingga orang maupun institusi tidak bisa lagi membatasi pembacaan dan resepsi audiensnya. Apalagi pada audiens yang banyak dan luas, pada satu orang saja resepsi teks itu bisa berubah-ubah. Resepsi seseorang atas Ramayana kemarin belum tentu sama dengan resepsi hari ini. Sebagai contoh, orang boleh saja berpandangan tokoh Rahwana adalah figur absurd karena memiliki sepuluh kepala. Tetapi orang juga boleh berpikir bahwa Rahwana adalah orang cerdas, karena punya sepuluh otak.

Beda persepsi itu sah. Tergantung di mana orang memposisikan diri dalam hubungan dengan teks. Contoh lain, orang juga boleh membaca Dharmawangsa adalah tokoh yang menyelamatkan dunia dan kemanusiaan dengan dharma. Tetapi pembaca kritis bisa menyimpulkan, Dharmawangsa berhasil membebaskan dirinya sebagai individu, tetapi gagal membebaskan dunia dari peperangan dan penghancuran kemanusiaan. Karena pada masa pemerintahannya dunia dilanda peperangan hebat, bharatayudha, dan kehancuran kemanusiaan terus berlanjut, bahkan ketika beliau telah masuk surga bersama seekor anjing. Apa pun hasil bacaan orang adalah pengukuhan keberadaan teks. Perbedaan-perbedaan itu menyebabkan teks semakin ada, semakin nampak. Jalan kolektif dan jalan individu dalam tradisi religius Hindu bersumber dari resepsi teks.

 

Orang Dalam Vs Orang Luar

 

Siapakah insider (orang dalam) dan siapakah outsider (orang luar) dalam tradisi sastra Hindu? Tidak gampang menjawabnya. Karena permasalahan jauh lebih kompleks daripada yang mampu dipahami pikiran.

Sebagai contoh kita tengok tradisi sastra Jawa Kuno (sastra Kawi). Zoetmulder membuat Kamus Old Javanese-English Dicitonary, dua volume, yang di seluruh sunia diakui sebagai kamus terbaik di bidangnya. Ia juga melahirkan buku Kalangwan, yang telah dibahasaindonesiakan, sebuah buku yang menjadi panduan bagi mereka yang belajar sastra Jawa Kuno. Sejarah sastra Jawa Kuno yang merupakan hasil studi Zoetmulder sampai saat ini diterima baik oleh ahli sastra maupun sejarah.

Dari apa yang dilakukannya, jelas Zoetmulder adalah insider. Bahwa ia orang Belanda yang beragama bukan Hindu tidak menghalanginya untuk masuk dan dimasukkan ke dalam lingkaran insider. Bagi banyak orang yang belajar sastra Jawa Kuno ia adalah seorang guru yang baik. Sebaliknya, orang Hindu-Bali atau Hindu-Indonesia yang tidak tahu-menahu tentang sastra Jawa Kuno itu adalah outsider dari lingkaran tradisi sastra itu. Kehinduan atau kebalian atau kejawaan tidak menjadi halangan bagi mereka untuk masuk atau dimasukkan ke kelompok outsider.

Jadi, tidak mesti insider itu hanya penganut sebuah tradisi, dan tidak juga outsider hanya orang luar yang menganut nilai berbeda. Seekor katak bukanlah insider bagi bunga tunjung walaupun hidup dalam kolam yang sama. Sedangkan seekor kumbang bukanlah outsider bagi tunjung itu, walau tidak  hidup di telaga yang sama dan datang dari jauh. Begitu kata Kakawin Niti Sastra. Bahwa tunjung dan katak ada dalam satu telaga, itu adalah realita geografis, bukan wakil dari satu ide dan nilai.

Sastra Hindu tidak mengajarkan umatnya melihat musuh itu ada di luar, tetapi musuh ada di dalam diri. Maksudnya, kebersamaan bisa hancur dari dalam. Yang punya potensi merusak adalah outsider yang ada di dalam.

Penulis, sastrawan, doktor lulusan Leiden University, Belanda

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)