Seniman Vs Lembaga Berbasis Agama
Oleh IBM Dharma Palguna
DALAM
tradisi religius Hindu selalu ada kelompok yang punya
semangat mengalirkan sehingga Hindu terus ada (sanatana).
Tetapi, kelompok mengalirkan itu
tidak bekerja sendirian.
Mereka dibantu oleh pihak yang justru menentangnya,
yaitu kelompok yang selalu ingin membendung, alias
menstandarkan nilai-nilai. Yang punya semangat
mengalirkan umumnya mereka yang melakoni Hindu sebagai
religiusitas universal, seperti Saraswati yang selain
nama sebuah sungai juga
berarti mengalir. Sedangkan yang punya semangat
membendung umumnya mereka yang berpikir bahwa Hindu
adalah institusi yang standar, yang di dalamnya hanya
ada ''benar vs tidak benar'' dan ''boleh vs tidak boleh''.
Kedua pihak itu saling mengesahkan keberadaan
masing-masing.
Yang mengalirkan mengesahkan yang
membendung, demikian pula sebaliknya, lewat
konflik-konflik yang mereka bangun. Konflik itu
terbangun karena tidak mudah mengalirkan nilai-nilai
yang bila telah dianut akan
cenderung melembaga. Konflik itu
juga terbangun karena tidak gampang membendung
nilai-nilai yang secara alamiah cenderung mengalir
menjelajahi ruang dan waktu.
Sejarah religiusitas Hindu mencatat dalam setiap tahapan
waktu selalu ada yang menang dan ada yang kalah.
Tetapi, dalam periode yang panjang
sejarah itu juga memberi tahu kita bahwa usaha
membendung semangat religiusitas yang mengalir akhirnya
gagal. Misalnya, Weda
mengalir menjadi Upanishad, terus mengalir menjadi
Purana (Ramayana dan Mahabharata), kemudian menjadi
Manawa Dharma Sastra, terus Darshan (dua di antaranya
adalah Samkhya dan Yoga), dan seterusnya dan seterusnya.
Di Nusantara dan
Bali aliran itu juga deras dan bercabang, beranting.
Walaupun kemenangan ada pada pihak yang mengalirkan,
sesungguhnya mereka berutang budi pada yang membendung
karena telah ikut membangun konflik.
Jadi, yang mengalirkan dan yang membendung ada dalam
satu lingkungan yang sama,
orang menyebutnya tradisi. Keduanya terus membuat
nilai-nilai itu ada dengan cara
yang bertolak-belakang.
Khazanah sastra Hindu kaya karena hasil
kolaborasi dua pihak bertentangan itu.
Jadi, konflik antara sutradara GN dan WHYO dapat
dipahami sebagai sepasang agen tradisi yang sedang
bekerja dengan cara
tarik-menarik dan tolak-menolak, sehingga kembali
mengadakan teks pada memori audiensnya, dalam hal ini
adalah teks Ramayana yang nyaris beku dalam cengkraman
tradisi yang baku. Sutradara GN dan WHYO adalah dua
orang pekerja yang barangkali tidak sadar bahwa mereka
punya satu atasan yang sama,
bernama tradisi. Keduanya sedang
menjalankan peran masing-masing. Sang sutradara
berusaha mengalirkan Ramayana karena
ia adalah murid tradisi yang kritis, yang di
kepalanya ada kata kreatif, berkembang, bertanggung
jawab. WHYO ingin membendung karena
ia adalah murid tradisi yang baik, yang di
kepalanya ada kata reaktif, ajeg, bertanggung jawab.
Bagaimana keduanya menyikapi konflik, itulah masalahnya.
Jika sutradara GN berhenti bekerja karena merasa tidak
enak-hati, terancam dan alasan lainnya, berarti
ia bukanlah sejatinya si Jiwa
Mengalir. Sedangkan jika WHYO berubah dari peran
pengkritik menjadi eksekutor, berarti tidak lagi ada
dalam satu lingkaran yang sama.
Bukan saja ia berarti ke luar
dari lingkaran konflik penciptaan, juga ke luar dari
basis pijakan.
Eksekusi imajinasi bukanlah sejatinya semangat Hindu,
tetapi adalah kekerasan (himsa) pada level pikiran.
Kekerasan
pikiran itulah sesungguhnya yang harus dilawan oleh
seorang penganut Hindu atau institusi berbasis kehinduan.
Originalitas Vs Hibrid
Studi filosogi di Indonesia dimulai oleh para filolog
Belanda, pada zaman Hindu-Belanda.
Mereka bekerja dengan berbagai
metode untuk mendapatkan ''teks'' yang asli.
Belakangan pendekatan mereka
mendapatkan banyak kritik dari para scholars.
Karena dengan
mencari yang asli, mereka mengingkari sebuah teks itu
hybrid, juga menganggap pengembangan teks lewat
penyalinan adalah kesalahan.
Pandangan filolog Hindu-Belanda itu mendapatkan banyak
pengikut di Indonesia.
Pada gilirannya ''murid-murid'' itu
dengan caranya masing-masing memasyarakatkan konsep
originalitas. Keaslian, yang
sesungguhnya sudah tidak ada, menjadi seperti harga mati.
Mereka beranggapan teks yang ada di
depan mereka adalah ciptaan satu orang pengarang,
individu.
Mereka lupa bahwa teks itu adalah ciptaan tradisi, lewat
penyalinan berkali-kali, oleh banyak orang, dengan
berbagai konteks berbeda, dengan berbagai penambahan dan
pengurangan, melewati waktu berabad-abad.
Epos Ramayana yang paling dikenal di dunia dihubungkan
dengan nama pengarang Walmiki.
Tetapi Ramayana-Walmiki bukanlah
satu-satunya sumber teks kisah Rama dan Sita yang
berkembang di dunia ini. Kakawin Ramayana,
berbahasa Jawa Kuno, menggunakan sumber Uttarakanda.
Di Bali ada banyak geguritan,
berbahasa
Bali yang
ber-babon-kan fragmen Kakawin Ramayana.
Masyarakat Bali dan Jawa kebanyakan mengenal cerita
Ramayana dari pementasan wayang, sendratari, dan lukisan.
Sastra
Indonesia juga
memiliki karya yang mengisahkan fragmen dari epos besar
itu.
Misalnya, ada cerpen berjudul ''Wawancara
dengan Rahwana'', ada novel ''Anak Bajang Menggiring
Angin''. Komik tentang kisah
Ramayana juga tak terbilang banyaknya.
Hikayat dalam sastra
Melayu pun ada yang berkisah tentang Rama cs.
Semua karya di atas adalah ''saksi'' bahwa epos Ramayana
adalah dikembangkan dengan semangat kreatif yang luar
biasa, di Melayu, Jawa, Bali, dan tentu saja di Asia
Selatan, Asia Tenggara, dan sebagainya.
Pikiran
tentang originalitas, keaslian, nyata-nyata tidak
menjadi kriteria baik oleh pengarang maupun oleh
audiensnya.
Seniman Bali bahkan sangat terkenal kreatif dalam
melakukan modifikasi.
Dalam Sendratari Mahabharata, misalnya, publik Bali
pernah disuguhi karakter Sakuni yang sangat vulgar,
konyol, lucu, porno, bodoh, dan objek olok-olok.
Vulgarisasi-Sakuni itu ternyata
diterima dengan senang hati oleh penonton dan masyarakat
Bali pada
umumnya.
Tidak ada pribadi atau lembaga yang
marah. Karena khalayak
Bali tahu itu
boleh dan sah-sah saja.
Contoh kasus seperti vulgarisasi-Sakuni sangat banyak
justru di Bali.
Tidak ada orang atau institusi yang
memprotes karakter Sakuni dalam sendratari yang ''menyimpang''
dari karakter Sakuni dalam parwa-parwa dan dalam
sejumlah kakawin. Karena di
dalam tradisi
Bali
sesungguhnya ada semangat berkembang, mengalir, dan
menghargai perbedaan.
Perkembangan
sejarah politik dan pendidikan menyebabkan tumbuhnya
sikap antiperbedaan, sikap ingin menstandarkan, dan
sikap bertahan berlebihan.
Kisah cinta segi tiga Rama-Sita-Rahwana sudah mendunia.
Sudah menjadi milik dunia.
Sehingga orang maupun institusi
tidak bisa lagi membatasi pembacaan dan resepsi
audiensnya. Apalagi pada
audiens yang banyak dan luas, pada satu orang saja
resepsi teks itu bisa berubah-ubah. Resepsi
seseorang atas Ramayana kemarin belum tentu
sama dengan resepsi hari ini.
Sebagai contoh, orang boleh saja
berpandangan tokoh Rahwana adalah figur absurd karena
memiliki sepuluh kepala.
Tetapi orang juga
boleh berpikir bahwa Rahwana adalah orang cerdas, karena
punya sepuluh otak.
Beda persepsi itu sah.
Tergantung di mana orang
memposisikan diri dalam hubungan dengan teks.
Contoh lain, orang juga boleh
membaca Dharmawangsa adalah tokoh yang menyelamatkan
dunia dan kemanusiaan dengan dharma.
Tetapi pembaca kritis bisa menyimpulkan, Dharmawangsa
berhasil membebaskan dirinya sebagai individu, tetapi
gagal membebaskan dunia dari peperangan dan penghancuran
kemanusiaan. Karena pada masa
pemerintahannya dunia dilanda peperangan hebat,
bharatayudha, dan kehancuran kemanusiaan terus berlanjut,
bahkan ketika beliau telah masuk surga bersama seekor
anjing. Apa pun hasil
bacaan orang adalah pengukuhan keberadaan teks.
Perbedaan-perbedaan itu menyebabkan
teks semakin ada, semakin nampak.
Jalan kolektif dan
jalan individu dalam tradisi religius Hindu bersumber
dari resepsi teks.
Orang Dalam Vs Orang Luar
Siapakah insider (orang dalam) dan siapakah outsider (orang
luar) dalam tradisi sastra Hindu?
Tidak gampang menjawabnya.
Karena
permasalahan jauh lebih kompleks daripada yang mampu
dipahami pikiran.
Sebagai contoh kita tengok tradisi sastra Jawa Kuno (sastra
Kawi).
Zoetmulder membuat Kamus Old
Javanese-English Dicitonary, dua volume, yang di seluruh
sunia diakui sebagai kamus terbaik di bidangnya.
Ia juga melahirkan buku
Kalangwan, yang telah dibahasaindonesiakan, sebuah buku
yang menjadi panduan bagi mereka yang belajar sastra
Jawa Kuno.
Sejarah sastra Jawa Kuno yang merupakan hasil studi
Zoetmulder sampai saat ini diterima baik oleh ahli
sastra maupun sejarah.
Dari apa yang dilakukannya,
jelas Zoetmulder adalah insider. Bahwa
ia orang Belanda yang
beragama bukan Hindu tidak menghalanginya untuk masuk
dan dimasukkan ke dalam lingkaran insider. Bagi banyak
orang yang belajar sastra Jawa Kuno
ia adalah seorang guru yang baik.
Sebaliknya, orang Hindu-Bali atau
Hindu-Indonesia yang tidak tahu-menahu tentang sastra
Jawa Kuno itu adalah outsider dari lingkaran tradisi
sastra itu.
Kehinduan atau kebalian atau kejawaan
tidak menjadi halangan bagi mereka untuk masuk atau
dimasukkan ke kelompok outsider.
Jadi, tidak mesti insider itu hanya penganut sebuah
tradisi, dan tidak juga outsider hanya orang luar yang
menganut nilai berbeda.
Seekor katak bukanlah insider bagi bunga tunjung
walaupun hidup dalam kolam yang sama.
Sedangkan seekor kumbang bukanlah outsider bagi tunjung
itu, walau tidak hidup
di telaga yang sama dan datang dari jauh.
Begitu kata Kakawin Niti Sastra.
Bahwa tunjung
dan katak ada dalam satu telaga, itu adalah realita
geografis, bukan wakil dari satu ide dan nilai.
Sastra Hindu tidak mengajarkan umatnya melihat musuh itu
ada di luar, tetapi musuh ada di dalam diri.
Maksudnya, kebersamaan bisa hancur
dari dalam.
Yang punya potensi merusak adalah
outsider yang ada di dalam.
Penulis, sastrawan, doktor lulusan Leiden
University, Belanda